Ushuly: Jurnal Ilmu Ushuluddin https://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/ushuly <div>ISSN (Cetak): 2830-3865</div> <div>ISSN (Online): 2828-9331</div> <div>Jurnal Ushuluddin terbitan Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Bani Fattah Jombang bekerjasama dengan Lembaga Penerbitan dan Jurnal Ilmiah (LPJI) IAIBAFA. Jurnal Ushuluddin berisi hasil penelitian keushuluddinan (ilmu dasar Islam). Fokus utama Jurnal Ushuluddin meliputi: Kajian Alquran dan Tafsir, Hadis, Akidah, Pemikiran Islam dan Tasawuf.</div> <div>Jurnal Ushuly adalah jurnal akses terbuka, diterbitkan dua kali setahun (April dan Oktober).</div> <div><strong>Alamat Penerbit</strong>: KH. A. Wahab Hasbulloh Street Gg. II No. 120 A Tambakberas Jombang Jawa Timur, Phone. (0321) 855530, Fax. (0321) 855530, Email: <a href="https://mail.google.com/mail/" target="_blank" rel="noopener">jurnalushuly@gmail.com</a></div> en-US Masfarhan91@gmail.com (Ushuly: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin) Masfarhan91@gmail.com (Farhan Masrury) Thu, 02 Jul 2026 08:57:25 +0700 OJS 3.2.1.2 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Implementasi Muhasabah Imam Al-Muhasibi Pada Program I'tikaf Ramadhan 2026 Sebagai Model Pendidikan Spritual di Sekolah Tahfidz Al-Fatih Pekanbaru https://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/ushuly/article/view/ushuly_juli26_9 <p>This study aims to examine the implementation of the concept of muhasabah from Imam Al-Muhasibi's perspective in the 2026 Ramadan i'tikaf program at the Al-Fatih Tahfidz School in Pekanbaru as a model of spiritual education. The study used a qualitative approach through observation, interviews, documentation, and questionnaires with 58 respondents. The results showed that muhasabah was internalized through worship and reflection activities such as dhikr, qiyam al-layl, and tausiyah. The majority of students understood muhasabah well and experienced increased self-awareness, closeness to God, and improved morals. This program has proven effective in shaping religious character, although its long-term impact on behavior still needs strengthening. Thus, muhasabah in Ramadan i'tikaf has the potential to become an effective model of spiritual education in Islamic educational institutions. The concept of muhasabah in the Ramadan i'tikaf program has theoretical relevance and serves as an effective model of spiritual education, with the potential for more systematic development within the Islamic education curriculum to shape individuals with character.</p> Fajar Illahi, Gazali Gazali Copyright (c) 2026 Ushuly: Jurnal Ilmu Ushuluddin https://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/ushuly/article/view/ushuly_juli26_9 Thu, 02 Jul 2026 00:00:00 +0700 Etika Interaksi Sosial: Kajian Atas Penafsiran Al-Rāzi Terhadap QS. Al-Hujurat Ayat 10-13 Perspektif Blumer https://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/ushuly/article/view/ushuly_juli26_2 <p>Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan persaudaraan dan hubungan baik. Islam menekankan pentingnya ukhwah (persaudaraan) yang berlandaskan keimanan. Namun, fenomena bullying dan bergosip sering terjadi karena minimnya kesadaran akan persaudaraan. QS. Al-Hujurat ayat 10-13 memberikan tuntunan tentang sikap yang perlu dimiliki orang mukmin dalam bersosial. Al-Rāzi menjabarkan dalam karyanya secara detail menggunakan runtutan logika yang komperehensif sehingga pembaca bisa memiliki bagaimana mampu berinteraksi dengan orang lain sesuai etika. Metode penelitian ini adalah <em>library research </em>menggunakan Teknik berupa mengumpulkan keterangan dari buku, jurnal, artikel, skripsi, tesis, maupun situs akademik terpercaya seperti <em>google schoolar</em>. Penelitian ini memuat hasil bahwa penafsiran Fakhruddin al-Rāzi terhadap QS. Al-Ḥujurāt ayat 10-13 menyoroti pentingnya etika sosial dalam Islam, seperti ukhwah dan pengendalian lisan. Dengan pendekatan interaksi simbolik Blumer, nilai-nilai ini menjadi simbol sosial yang membentuk perilaku etis. Penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dapat membantu menciptakan masyarakat yang harmonis dan bermoral.</p> Masfiyah Witri Salsabila, Fathoni Fathoni Copyright (c) 2026 Ushuly: Jurnal Ilmu Ushuluddin https://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/ushuly/article/view/ushuly_juli26_2 Thu, 02 Jul 2026 00:00:00 +0700 Analisis Manhaj Penafsiran Tafsir Al-Qurtubi dan Tafsir Al-Munir dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa’ Ayat 58-59 https://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/ushuly/article/view/ushuly_juli26_02 <p>Penelitian ini membahas analisis perbandingan manhaj penafsiran antara Al-Qurtubi dalam <em>Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an</em> dan Wahbah az-Zuhaili dalam <em>Tafsir al-Munir</em> terhadap QS. An-Nisa’ ayat 58-59. Kedua mufassir tersebut memiliki latar belakang keilmuan, metode, dan corak tafsir yang berbeda, namun sama-sama memberikan kontribusi penting dalam memahami konsep amanah, keadilan, dan ketaatan kepada Allah, Rasul, serta ulil amri. Al-Qurtubi lebih menekankan tafsir dengan pendekatan <em>fiqhi</em> klasik, banyak mengutip hadis dan pendapat ulama terdahulu serta menggunakan metode <em>tahlili</em>. Sementara itu, Wahbah az-Zuhaili memadukan pendekatan <em>naqli</em> dan <em>‘aqli</em>, menghadirkan penafsiran yang lebih sistematis, modern, dan relevan dengan konteks kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keduanya sependapat tentang pentingnya amanah dan keadilan sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat dan bernegara, namun berbeda dalam gaya penyajian, sistematika, serta keluasan cakupan penafsiran. Penelitian ini menegaskan bahwa pesan utama QS. An-Nisa’ ayat 58-59 tetap relevan sebagai pedoman etika sosial, hukum, dan pemerintahan di era modern.</p> M Khalyl Fadhlan Darwis, Syafruddin Syafruddin, Radhiatul Hasnah Copyright (c) 2026 Ushuly: Jurnal Ilmu Ushuluddin https://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/ushuly/article/view/ushuly_juli26_02 Thu, 02 Jul 2026 00:00:00 +0700 Manhaj Penafsiran Asy-Syanqity Terhadap Konsep Hijab dalam QS. Al-Ahzab Ayat 53 dan 59: Analisis Kontekstual dan Tematik https://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/ushuly/article/view/ushuly_juli26_3 <p>Penelitian ini membahas manhaj penafsiran Asy-Syanqīṭī terhadap konsep hijab dalam QS. al-Ahzab ayat 53 dan 59, dua ayat yang memiliki posisi penting dalam pembentukan etika interaksi dan batasan aurat perempuan Muslim. Pemilihan topik ini didasarkan pada urgensi memahami metode tafsir klasik yang berpengaruh dalam diskursus hijab kontemporer, khususnya melalui pendekatan tafsīr al-Qur’ān bil-Qur’ān yang menjadi ciri utama karya monumental Asy-Syanqīṭī, <em>Aḍwā’ al-Bayān</em>. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian kepustakaan, melalui analisis komparatif terhadap sumber-sumber primer berupa kitab tafsir klasik, literatur ushul fikih, serta karya modern yang terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Asy-Syanqīṭī menafsirkan hijab dengan menekankan keumuman ‘illat hukum, keterkaitan antar ayat (munāsabah), dan integrasi dalil-dalil syar‘i yang memperkuat kewajiban jilbab sebagai ketentuan universal. Ia juga menolak pendekatan historis yang mereduksi hijab sebagai produk budaya, serta menegaskan bahwa perintah dalam ayat tersebut berlaku umum bagi seluruh perempuan Muslim. Temuan ini menegaskan bahwa metode Asy-Syanqīṭī memberikan konstruksi argumentatif yang kuat dalam memahami kewajiban hijab dalam perspektif syariat dan etika sosial Islam.</p> Muhammad Rifky Alfares, Syafruddin Syafruddin, Radhiatul Hasnah Copyright (c) 2026 Ushuly: Jurnal Ilmu Ushuluddin https://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/ushuly/article/view/ushuly_juli26_3 Thu, 02 Jul 2026 00:00:00 +0700 Tafsir Al-Maraghi: Memahami Ayat Melalui Konteks Dulu dan Kini https://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/ushuly/article/view/ushuly_juli26_4 <p>This study examines Ahmad Musthafa al-Maraghi’s interpretive approach in his work Tafsir al-Maraghi, focusing on the concept of understanding Qur`anic verses through two main contexts: the context of their revelation (the earlier context) and the context of modern social realities (the contemporary context). Al-Maraghi places historical meaning encompassing asbab al-nuzul, the socio-cultural conditions of the Arabs, and linguistic explanations as the foundational layer of interpretation that must not be overlooked. However, he simultaneously emphasizes the importance of actualizing the values and messages of the verses so that they remain relevant to contemporary human issues such as social morality, education, modern economics, and cultural dynamics. Through a rational and practical method free from complex theological debates, al-Maraghi presents a moderate and applicable model of interpretation. This study demonstrates that al-Maraghi’s contextual approach successfully bridges the needs of modern society to understand the Qur’an in a more functional manner without detaching it from its historical roots. Thus, Tafsir al-Maraghi stands as an important representation of a tafsir that integrates classical tradition with the demands of the present age.</p> Fikramsyah Putra Ramadhan, Syafruddin Syafruddin, Radhiatul Hasnah Copyright (c) 2026 Ushuly: Jurnal Ilmu Ushuluddin https://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/ushuly/article/view/ushuly_juli26_4 Thu, 02 Jul 2026 00:00:00 +0700 Makna Sombong dalam Al-Qur'an https://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/ushuly/article/view/ushuly_juli26_5 <p>Sombong merupakan sifat yang mengelabui seseorang agar merasa bahwa dirinyalah yang paling berkuasa disertai dorongan untuk merendahkan orang lain. Ada dua fokus permasalahan dalam penelitian ini, yakni: (1) bagaimana makna sombong dalam Al-Qur'an?, (2) bagaimana penafsiran makna sombong dalam kitab <em>Ruhul Ma’ani </em>perspektif Imam al-Alusy? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep, bentuk dan penafsiran sombong dalam Al-Qur’an menurut Imam Mahmud al-Alusy. Jenis penelitian ini adalah <em>library research</em> dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data memakai teknik dokumentasi dan analisis data menggunakan teknik penafsiran tematik dan deskriptif analisis. Kesimpulan penelitian menunjukkan kata sombong dalam Al-Qur’an disebutkan dengan beberapa terminologi berbeda, seperti <em>takabbara</em>, <em>istakbara</em>, <em>‘utuw</em>, <em>‘uluw</em>, <em>bathar</em>, <em>maraha</em>, <em>mukhtal</em>, <em>fakhur</em>, <em>na’a</em>, <em>asyir</em>, <em>hamiyyah</em>. Semuanya mengarah kepada makna sombong dengan beberapa titik perbedaan. Imam Al-Alusy menafsirkan makna sombong dalam berbagai terminologi sebagai berikut: 1) <em>‘Utuw</em> ialah kesombongan disertai kezaliman. 2) <em>‘Uluw</em> ialah kesombongan disertai menghina orang lain. 3) <em>Asyir</em>, <em>na’a</em>, <em>bathar</em>, ialah kesombongan disertai suka ria melewati batas. 4) <em>Maraha,</em> <em>mukhtal</em> ialah kesombongan disertai enggan menyapa dan mengindahkan nasehat orang lain. 5) <em>Yatamattha,</em> <em>fakhur</em> ialah kesombongan dengan membanggakan kelebihan dirinya. 6) <em>Takabbur,</em> <em>istikbar</em> ialah kesombongan merasa dirinya paling agung, disertai menghina, tidak mempercayai dan menolak kebenaran dari orang lain, serta enggan melaksanakan perintah Allah.&nbsp;&nbsp;</p> Ahmad Husaini Copyright (c) 2026 Ushuly: Jurnal Ilmu Ushuluddin https://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/ushuly/article/view/ushuly_juli26_5 Thu, 02 Jul 2026 00:00:00 +0700 Istiqamah dalam Al-Qur’an untuk Menyikapi Tekanan Hidup Era Modern https://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/ushuly/article/view/ushuly_juli26_6 <p>Perkembangan dalam kehidupan modern membawa arus kemajuan dibidang teknologi, disisi lain kemajuan ini juga meningkatkan tekanan psikologis seperti kecemasan, krisis makna hidup dan lemahnya integritas sosial. Penelitian ini berupaya untuk mengkaji konsep <em>istiqamah</em> dalam al-Qur’an dengan relevansinya dalam menghadapi tekanan hidup era modern. Penelitian ini menggunakan metode tafsir <em>maudhui’ </em>dengan meliputi menentukan tema, mengumpulkan ayat (dan hadis) yang berkaitan dengan konsep <em>istiqamah</em>, mengklasifikasikan kandungan ayat, lalu menafsirkan ayat dan menarik kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa konsep <em>istiqamah</em> dalam al-Qur’an mencangkup tiga dimensi utama, diatarannya keteguhan akidah, konsistensi dalam amal dan integritas dalam hubungan sosial. Analisis terhadap Qs Fussilat (41): 30, Qs Hud (11): 112 dan Qs at-Taubah (9): 7. Mengidentifikasikan bahwa <em>istiqamah </em>memiliki peran utama sebagai bentuk ketahanan spritual dan moral. Dalam konteks era modern, <em>istiqamah </em>memiliki peran penting dalam penopang stabilitas psikologis, memandu prilaku untuk konsisten serta landasan etika dalam menjalan kehidupan sosial. Selain dari itu <em>istiqamah </em>mempunyai keutamaan seperti memiliki ketenangan jiwa, pengampunan dosa, kelapangan rezeki serta sikap moderat dalam beragama. Dengan demikian <em>istiqamah</em> merupakan konsep terpadu yang tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga fungsiona dalam menjawab tantangan kehidupan era modern saat ini.</p> Nofrizal Afandi, Heru Zuky Copyright (c) 2026 Ushuly: Jurnal Ilmu Ushuluddin https://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/ushuly/article/view/ushuly_juli26_6 Thu, 02 Jul 2026 00:00:00 +0700 Perumusan Topik dan Masalah Penelitian dalam Studi Literatur pada Kajian Hadis https://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/ushuly/article/view/ushuly_juli26_7 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perumusan topik dan masalah penelitian dalam studi literatur pada kajian hadis. Perumusan topik dan masalah merupakan tahap awal yang sangat penting dalam penelitian, karena menentukan arah dan fokus kajian yang akan dilakukan. Namun, dalam praktiknya masih banyak peneliti yang mengalami kesulitan dalam menentukan topik yang tepat dan merumuskan masalah penelitian secara jelas, khususnya dalam penelitian berbasis studi literatur. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan menganalisis berbagai sumber tertulis, seperti buku dan artikel jurnal yang berkaitan dengan metodologi penelitian hadis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perumusan topik harus bersifat spesifik, relevan, dan sesuai dengan bidang kajian hadis, sedangkan rumusan masalah harus disusun secara jelas, terarah, dan mencerminkan fokus penelitian. Selain itu, ditemukan beberapa kesalahan umum, seperti topik yang terlalu luas, rumusan masalah yang tidak fokus, serta kurangnya keterkaitan antara topik dan masalah penelitian. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang baik dalam merumuskan topik dan masalah agar penelitian studi literatur dalam kajian hadis dapat dilakukan secara sistematis dan menghasilkan kajian yang berkualitas.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>Metodologi, Topik dan Masalah, Studi Literatur</p> Adhitama Alim Amanullah Copyright (c) 2026 Ushuly: Jurnal Ilmu Ushuluddin https://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/ushuly/article/view/ushuly_juli26_7 Thu, 02 Jul 2026 00:00:00 +0700 Spiritualitas Manusia Perspektif Al-Qusyairy dalam Lathaif Al-Isyarat https://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/ushuly/article/view/ushuly_juli26_8 <p style="font-weight: 400;">Penelitian ini mengungkap bahwa spiritualitas merupakan dimensi penting dalam pembentukan dan pemulihan kesehatan mental. Wacana kesehatan mental dalam era modern cenderung berfokus pada aspek biologis dan psikis, sehingga mengabaikan dimensi spiritual yang esensial bagi keseimbangan jiwa manusia. Dalam konteks ini, pendekatan spiritual tidak hanya memberikan ketenangan batin, tetapi juga arah makna hidup, tujuan eksistensial, serta keterhubungan dengan sumber transendensi. Melalui penafsiran sufistik dalam <em>Lathâif al-Isyârât</em>, Al-Qusyairi menawarkan pemahaman mendalam tentang konsep jiwa (<em>nafs</em>) dan dinamika spiritual manusia. Ia memetakan perjalanan jiwa melalui tahapan-tahapan penyucian, dari <em>nafs al-ammârah</em>, <em>nafs al-lawwâmah</em>, hingga mencapai <em>rû<u>h</u></em> dan <em>al-sirr</em> sebagai puncak kesadaran spiritual. Gagasannya mengenai perjalanan jiwa menekankan pentingnya rekonstruksi batiniah untuk mencapai keseimbangan psikologis. Penafsiran Al-Qusyairi menegaskan keterbatasan epistemologis manusia dalam memahami roh, sekaligus menempatkannya sebagai inti kepribadian yang mengarahkan pada kebajikan.</p> Mamba'ul Ulum, M. Darwis Hude, Nur Rofiah Copyright (c) 2026 Ushuly: Jurnal Ilmu Ushuluddin https://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/ushuly/article/view/ushuly_juli26_8 Thu, 02 Jul 2026 00:00:00 +0700